Strategi Pengembangan Program Magang Jepang

Magang Jepang pada dasarnya adalah model pelatihan kerja yang pantas menjadi program unggulan. Program ini, secara langsung memberikan kontribusi terhadap pengurangan pengangguran. Apa lagi, kalau setiap alumni magang dapat membuka usaha dengan modal tabungan yang dibawa, kontribusi program ini terhadap pengurangan pengangguran menjadi semakin besar.

Walaupun demikian, bukannya tidak ada kekurangan. Bagaimanapun harus diakui, jumlah pengiriman dari tahun ke tahun tidak menunjukan kecenderungan meningkat dan dalam jumlah relatif kecil masih ada saja peserta yang melakukan pelanggaran kesepakatan kerja. Sedangkan cerita lainnya, adalah ludesnya uang sebagian alumni lantaran besarnya nafsu komsutif. Pada hal, semestinya kalau saja mereka dapat membuka usaha, apapun macamnya pasti dapat menyerap tenaga kerja disekitarnya.

Berdasarkan itu, diperlukan strategi pengembangan program yang berorientasi pada peningkatan kontribusi terhadap pengurangan pengangguran. Strategi yang dapat direkomendasikan adalah; pertama peningkatan jumlah peserta magang. kedua, mengurangi tingkat pelanggaran kesepakatan selama magang; ketiga: pengembangan program pendampingan alumni pasca magang.

Peningkatan Jumlah Peserta Magang�
Dapat dipahami untuk meningkatkan jumlah peserta memang bukan perkara mudah. Kuota pengiriman peserta magang sangat terbatas, selain itu masih harus dibagi-bagi untuk propinsi lain. Tetapi yang paling menentukan, berapa kuota pengiriman harus diterima masing-masing propinsi adalah IMM dan pusat. Untuk mendapatkan kuota yang lebih besar, jelas harus bersaing dengan propinsi lain.

Berdasarkan itu, upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah pengiriman dilakukan antara lain adalah; mengembangkan lobi yang lebih kuat dan membangun komunikasi yang lebih intensif dengan pusat dan IMM, mengembangkan kerjasama dengan lembaga yang menangani program sejenis baik di Jepang, maupun Negara lain dan meningkatkan kualitas calon peserta, untuk meningkatkan daya saing

Mengurangi Tingkat Pelanggaran Kesepakatan Selama Magang
Pelanggaran kesepakatan peserta magang dari Jawa Tengah, walaupun dilakukan oleh jumlah yang relatif sedikit, diyakini dapat menurunkan citra peserta secara keseluruhan. Berdasarkan pengalaman empirik, pelanggaran yang paling dilakukan adalah meninggalkan perusahaan tanpa sepengetahuan IMM, untuk bekerja di perusahaan dengan motivasi untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi, sehingga menjadi tenaga kerja ilegal. Dampak yang muncul adalah, adanya keengganan perusahaan di Jepang untuk menerima peserta dari Jawa Tengah. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meminimalisir kasus-kasus tersebut.

Berdasarkan itu, upaya yang direkomendasikan adalah; meningkatkan peran monitoring peserta selama magang, mendorong terbentuknya forum komunikasi antar peserta selama magang; membangun saluran konsultasi dan komunikasi intensif melalui internet, serta membantu jalinan komunikasi keluarga dengan peserta magang Pengembangan Program Pendampingan Pasca Magang.

Program Magang Jepang, akan memberikan kontribusi lebih besar manakala alumni magang dapat membuka usaha, sehingga dapat menyerap pencari kerja. pengalaman menunjukan, bahwa modal bukan jaminan keberhasilan untuk berusaha. Sebagian alumni berhasil, namun sebagian yang lain gagal. Penyebab kegagalan diduga karena, alumni gagap untuk mandiri, setelah sekian tahun bekerja untuk orang lain.

Upaya yang direkomendasikan adalah; pelatihan pendampingan, mendorong kelompok, usaha, untuk mengurangi resiko kegagalan, mendorong terbentuknya forum komunikasi alumni, dan mempertemukan dengan usahawan sukses untuk meningkatkan motivasi.

*) staf seksi informasi nakertras
Sumber http://kenshuseidesu.tripod.com/id33.html

Comments are closed.